Minggu, 17 Februari 2019

[Review] Kandang Ingkung n' Coffee, Suasana yang Etnik dan Klasik, Kamu Wajib Coba


Kamu suka makan ingkung? Kalau iya, sama dong. Nah, kali ini saya akan mereview tempat kuliner yang menyajikan menu ingkung. Kesempatan buat saya nih bisa datang kesini. Waktu itu ada acara khotmil qur'an di salah satu komunitas ngaji. Sekalian syukuran ulang tahun salah satu anggota kami. Lumayan juga dapat traktiran qiqiqiiqi. Biasa emak-emak, apa aja suka gratis-gratis. 

Selain ingkung kuali Kalakijo di Pajangan, tempat kuliner ingkung ini bisa jadi rekomendasi.  Namanya Kandang Ingkung n' Coffee.  Terletak sekitar 7km  dari pusat kota Yogya ke arah barat,  tepatnya ke arah Wates, Kulonprogo.  Jalan masuk menuju lokasi tidak sulit.  Kamu akan menemukan perbukitan yang suasananya masih alami. Masuk ke sebuah kampung Jlitengan, Gamping, Sleman. 

Etnik dan Klasik



Sesampainya di lokasi, kamu akan melihat bangunan yang terbuka dari bahan kayu dan bambu.  Tak hanya itu, terdapat juga beberapa bangunan berbentuk limasan kayu dengan meja dan kursi dari kayu-kayu bekas.  di tempat ini ada sebuah gerobak sapi, loh. Cuma ya tidak ada sapinya, heehhe.  Tampak ada beberapa kain yang dipergunakan sebagai pelindung dari sinar matahari. Kamu bisa memilih tempat yang sudah tersedia, mau yang model lesehan ataupun duduk di kursi yang menampilkan nuansa etnik. Tempatnya menjadi terlihat klasik. 

Suasana Tradisional



Di tempat ini cara masaknya masih dengan suasana dapur tradisional, yakni dengan menggunakan tungku dan  kayu bakar. Dengan cara ini diyakini rasanya lebih enak. Beberapa keunikan lainnya yaitu cara penyajiannya menggunakan alat-alat tradisonal, seperti memakai piring blek (piring jaman dulu), tampah atau tambir yang dilapisi daun pisang. Hampir tidak ada penyajian dengan  menggunakan plastik. Semua hampir mendekati ke suasana jaman dulu.

Ngopi Sepuasnya


Begitu masuk tempat ini, kamu bisa ambil kopi sepuasnya dengan membayar seikhlasnya. Tidak hanya kopi, ada juga minuman jahe yang sudah disediakan menggunakan ceret. Masaknya juga dengan menggunakan tungku kayu bakar. Aromanya akan berbeda jika dimasak dengan kayu bakar. Bisa bikin kecanduan dan ketagihan. Jenis kopi yang tersedia  ada kopi gayo dan kopi lampung. Dapat dinikmati secara original maupun dicampur air jahe lalu ditaburkan bubuk kapulaga.  Nah,  walaupun membayar dengan ikhlas, ambil secukupnya aja, ya, Dears.

Menu Ndeso




Menu makanan yang disuguhkan adalah paket ingkung (ingkung original atau ingkung goreng), garang asem, olahan jantung pisang dan daun pepaya. Untuk snacknya ada bakwan, tempe mendoan, pisang goreng, dan tahu goreng. Secara harga juga tidak terlalu mahal dengan suasana tempat yang nyaman. Olahan bumbu yang meresap menjadikan makanan disini banyak disukai konsumen. Pas di lidah dan menggugah selera. Saya pun ketagihan datang kesini. 

Fasilitas Unik




Suasananya yang masih alami, bisa untuk menghabiskan waktu bersama keluarga. Sambil menunggu hidangan disajikan, kamu dan keluarga dapat bermain bersama. Cocok untuk tempat bermain anak-anak. Tempatnya bakal bikin betah deh. Disini kamu bisa melakukan kegiatan bermain panahan yang sudah disiapkan  di belakang restoran. Fasilitas ini jarang ditemukan di sebuah restorant di Yogyakarta.  Jika sudah memasuki waktu sholat, ada sebuah mushola kecil yang bentuknya cukup khas. Bentuknya mirip kandang, namun tetap bersih dan layak untuk beribadah. Tempat mengambil wudhunya juga tidak jauh dari air bersih yang mengalir.

Itulah Dears, review dari restoran Kandang Ingkung n' Coffee. Semoga informasi ini bermanfaat untuk kamu yang ingin menikmati wisata kuliner menu ingkung dengan suasana tradisional.

Salaam, 






#SETIP
#SemingguTigaPostingan
#estrilookchallenge
#estrilookcommunity
#daysix

Jumat, 15 Februari 2019

Cari Sarapan Pagi di Sekitar Prawirotaman, Coba 4 Tempat Sederhana Ini, Dijamin Ketagihan

Hai Dears, kamu lagi travelling ke Yogyakarta? Kebetulan menginap di area Prawirotaman. Jangan bingung cari tempat sarapan, ya. Berhubung saya juga tinggal di sekitar sini, saya akan bahas 4 tempat kuliner enak juga murah untuk sarapan pagi.

Tapi ini bukan di rumah makan, hanya warung pinggir jalan dengan menggunakan gerobak. Kualitas rasanya tak kalah dengan makanan yang sudah mempunyai gerai khusus. Walaupun di pinggir jalan, warung-warung ini terjaga juga kebersihannya. Yuk, simak ulasannya.

1. Warung Soto Sapi Pak Parno


Warung soto ini berdiri kurang lebih 20 tahun yang lalu. Terletak di Jalan Prawirotaman 3. Tempat ini adalah tempat sarapan favorit keluarga saya. Di hari libur, wah bisa antri kalau sarapan disini. Warung ini juga menjual aneka lauk seperti tempe mendoan, babat, iso, sate ayam atau telur puyuh. Kuah sotonya yang segar, berasa kaldunya. Dijamin endes deh.

2. Angkringan Pak Tino


Kalau kamu ingin cari sarapan dengan ramesan (nasi campur). Bisa kamu cari angkringan ini. Lokasinya di depan Pool RIA Taxi Timuran.  Selain harganya murah, rasanya juga enak. Tersedia sayur dan berbagai macam lauk pauk. Ehhh, ada nasi merah juga, loh. Jadi kamu bisa pilih nasinya, mau nasi putih atau nasi merah.  Semua makanan dimasak oleh istri pak Tino sendiri dan sangat terasa bumbunya.

3. Warung Lotek Pak Mul


Warung yang satu ini mudah ditemukan, Dears. Letaknya di Jalan Parangtritis (utara perempatan Prawirotaman 1. Warung ini buka jam 9, jadi kamu bisa sarapan disini. Nah, ketika jam makan siang ramai dikunjungi para pengunjung. Tempatnya sangat kecil dan hanya disediakan bangku saja. Disini tersedia lotek, gado-gado dan tahu ketupat. Kamu bisa memilih yang mana kesukaanmu. Begitu lezat, apalagi loteknya mmmmm. Bumbu kacangnya yang gurih, pas dicampurkan sayur mayur hingga tercium aroma daun jeruk.

4. Soto Ayam Kampung S.Pawiro


Dears, kamu yang tidak suka soto daging sapi, bisa mencoba soto ayam kampung mbah Pawiro. Soto khas Jawa ini berdiri sejak tahun 90-an. Letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya, masih sekitaran area Prawirotaman. Murah meriah dan kualitas rasa yang enak. Kuahnya bening, seger dan gurih. Bikin ketagihan, loh.

Kamu sudah  tidak bingung lagi cari sarapan di area Prawirotaman, kan?
Bisa kamu coba keempat  tempat sarapan  tadi , ya.

Salaam,







#SETIP
#SemingguTigaPostingan
#estrilookchallenge
#estrilookcommunity
#dayfive

Selasa, 12 Februari 2019

5 Fakta Menarik Plengkung Gading, Salah Satu Gerbang Masuk Selatan Keraton Yogyakarta

Plengkung Gading tahun 2018 (tampak depan)


Julukan Yogyakarta sebagai kota budaya memang tak salah. Kota yang telah saya singgahi kurang lebih 23 tahun ini menyimpan banyak kisah dan peninggalan budaya dari nenek moyang terdahulu. Sampai saat ini pun masih terjaga keasliaannya. Dijamin kamu bakal terkesan jika berlibur ke Yogyakarta sambil mempelajari budayanya.

Eitsss, berbicara tentang kota Yogyakarta tidak ada habisnya, loh, Dears. Tak hanya menyimpan kisah sejarah, Yogyakarta juga  terkenal dengan pesona keramahan penduduknya. Oleh sebab itu, banyak wisatawan datang ke Yogya untuk berlibur. Bagi mereka Yogyakarta memang begitu istimewa, yang membuat mereka datang lagi dan lagi.

Kali ini yang akan saya tulis adalah bangunan bersejarah di Yogyakarta. Bangunan  yang sederhana dan bentuknya menyerupai gapura, biasa disebut plengkung. Nah, ada 5 plengkung di kota Yogyakarta, salah satunya  Plengkung Gading. Plengkung Gading ini selalu saya lewati sebagai jalur alternatif ketika antar jemput sekolah anak saya yang kecil. Selain itu, saya pun bisa menyegarkan pandangan dengan  melewati Alun-alun Kidul dan Tamansari.  

Berikut ini, kamu bisa simak 5 fakta menarik seputar Plengkung Gading, Dears.

1. Bentuknya Masih Asli
Pesona Plengkung Gading di siang hari (tampak belakang)
Bangunan ini ada kaitannya dengan Keraton Yogya, karena salah satu gerbang pintu masuk ke Keraton dari arah selatan Alun-alun Kidul. Plengkung Gading ini  masih terjaga arsitekturnya hingga sekarang. Bentuknya pun masih sama dengan keasliannya seperti 200an tahun yang lalu walaupun sempat diperbaiki lagi.

2. Sakral dan Bersejarah
Plengkung Gading tahun 1890 (tampak depan)


Plengkung Gading mempunyai sejarah bagi keluarga Keraton Yogyakarta, khususnya Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga X. Bangunan ini adalah satu-satunya pintu keluar  bagi raja Keraton Yogyakarta  yang sudah meninggal. Jenazah Sultan Yogya kemudian akan  keluar melewati Plengkung Gading lalu disemayamkan di Makam Raja-raja Imogiri, Bantul. Konon, Sultan yang masih hidup, tidak diperkenankan melewati Plengkung ini.


3. Sarat Akan Makna

Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta telah menetapkan Plengkung Gading sebagai situs cagar budaya. 

Plengkung Gading nama sebenarnya adalah Plengkung Nirbaya.  Plengkung ini bukan bangunan sembarangan. Nirbaya memiliki makna  yaitu "Nir"  artinya tidak ada, sedangkan "baya" ahaya. Jadi secara sederhana Plengkung Nirbaya dapat diartikan gerbang yang tidak ada bahaya. Maksudnya adalah bebas dari bahaya dunia yang mengancam Kraton Yogyakarta.


4. Bangunan yang Unik
2 tangga berada di sisi utara


Hiasan lengkungan di atas gapura
Kata plengkung ini sebenarnya diambil dari bentuk pojok beteng yang melengkung, secara umumnya seperti benteng yang memanjang. Plengkung Gading ini dapat diakses dengan dua tangga yang berada di sisi utara bangunan. Plengkung Gading memiliki ukuran yang paling besar. Terdapat hiasan lima lengkungan di atasnya dan satu lengkungan lagi di puncaknya. Bangunan ini terlihat unik dengan arsitektur yang berbeda.

 5. Spot Foto Klasik
Pesona Plengkung Gading di malam hari (tampak belakang)
Berdiri di tengah-tengah pusat kota Yogya, hingga kini, Plengkung Gading berfungsi sebagai sarana lalu lintas dari sebelah selatan  menuju area Kraton Yogyakarta. Saat malam hari, Plengkung Gading  terlihat indah dengan berhiaskan lampu warna-warni. Kamu dapat mengabadikan momen dengan berpose di depan kamera, karena bangunan ini merupakan salah satu spot klasik disini. Bahkan, jika kamu ingin berfoto saat senja atau sore hari, hasilnya juga akan bagus. Saat mengambil foto di tempat sakral ini, diharapkan tetap menjaga sopan santun, ya.

Nah, demikianlah 5 fakta menarik dari Plengkung Gading ini. Penasaran ingin mengambil foto di bangunan sakral ini? Yuk, jadikan Yogyakarta sebagai destinasi tujuanmu selanjutnya, Dears.

Salaam,








#SETIP
#SemingguTigaPostingan
#estrilookchallenge
#estrilookcommunity
#dayfour



Jumat, 08 Februari 2019

Berani Ikut Challenge SETIP Bersama Estrilook, Simak 5 Alasannya

Yeee, ada challenge lagi di Estrilook Community. Baru saja selesai tantangan ODOP (One Day One Post) bulan kemaren,  kini sudah ada lagi tantangan baru.  Challengenya  berbeda dari komunitas lain yang kebanyakan ngadain ODOP. Wah, seperti mendapatkan durian gratis 10 buah (wkwkkwk senengnya bukan main). Estrilook juga mengadakan kegiatan blogwalking setiap Senin dan Kamis, loh. 

Cerita dikit nih, awal kenal dan bergabung di Estrilook saat diadakan kelas gratis membuat blog. Cuss deh ikutan daftar melalui salah satu tim Estrilook. Di komunitas ini, saya banyak mendapatkan ilmu. Disini juga saya memberanikan diri untuk ikut Proyek Antalogi Estrilook. Lama kelamaan, saya tertarik memasukkan artikel ke platform online milik Estrilook. Kamu bisa masuk ke situsnya estrilook.com dan akan mendapatkan banyak informasi inspiratif, menarik dan bermanfaat. Founder Estrilook adalah mbak Muyassaroh. Yuk, kepoin aja nih blog Mbak Muy

Lanjut , ya, nah, kalau kamu punya blog tapi jarang nulis karena malas. Bisa kamu hapus rasa malasmu dengan mengikuti challenge ini, loh. Sebagai contoh adalah saya (contoh orang yang malas menulis di blog), memberanikan diri mengikuti SETIP bersama Estrilook. Yup, inilah SETIP Seminggu Tiga Postingan yang diresmikan di grup Estrilook tanggal 02 Februari 2019 lalu. Link postingan tulisan disetor setiap Senin, Rabu,  dan Jum'at di grup FB Estrilook Community. Challenge ini akan berlangsung selama 3 bulan.


Saya berani ikut challenge ini. Mengapa? Simak yuk beberapa alasannya. Check it out, Guys.

1. Ada Jeda Waktu Menulis
SETIP mempunyai jeda waktu untuk mencari ide dan menuliskannya di blog. Nah, bagi saya sebagai  blogger pemula, ini sangat baik diikuti. Saya butuh proses untuk bisa menulis secara rutin di blog. Bertahap pasti mampu, kan, Guys.

2. Melatih Kedisiplinan Menulis
Buat saya, SETIP dapat melatih kedisiplinan. Dengan adanya syarat untuk posting link blog setiap Senin, Rabu, dan Jum'at, dapat membuat saya disiplin.  Setidaknya setiap 2 hari sekali saya menerbitkan artikel di blog. Dengan begitu, saya bisa mendisiplinkan diri untuk rutin menulis.

3. Meningkatkan Produktivitas Menulis
Jika saya bisa mengikuti challenge ini hingga selesai, produktivitas menulis pun akan meningkat. Saya akan mampu menulis secara teratur apalagi hal itu dilakukan dengan senang hati dan tanpa ada beban. 

4. Mengasah Kemampuan Menulis
Dengan mengikuti SETIP ini, saya ingin menemukan gaya menulis sendiri, maka saya harus mengasah kemampuan menulis. Nah, jadi perlu menghapus rasa malas juga, kan. 

5. Membangkitkan Semangat Menulis
Di rilisnya SETIP, saya langsung semangat. Banyak teman-teman di grup Estrilook juga terlihat sangat bersemangat saat ada challenge ini. Ini merupakan kesempatan untuk menulis secara rutin.  Saya belum berani ikut ODOP bulan kemaren, sekarang saya harus memberanikan diri ikut SETIP. 

Demikian  5 alasan saya mengikuti SETIP ini. Semoga kamu semua tetap termotivasi untuk menulis. Segera hapus rasa malasmu, ya, Guys!

Salaam, 







#SETIP
#SemingguTigaPostingan
#estrilookchallenge
#estrilookcommunity
#daythree



Rabu, 06 Februari 2019

Ikut Kelas Tari Sejak Dini, Ketahui 7 Manfaat Positif Bagi Anak

Saat Ujian Tari Payung 2018

Hai Dears..
Mau cerita lagi nih, ini tentang kegiatan menari anak saya, Zahra. Beberapa tahun lalu, sewaktu di TK kecil dia ingin sekali belajar nari. Lalu, saya hunting kelas  tari yang bikin anak enjoy. Akhirnya saya dapat info dari salah satu teman, yang kebetulan ibu dari teman Zahra di sekolah kalau ada sanggar tari di Tembi Rumah Budaya. Saya dan Zahra datang ke sanggar tersebut, tapi sebatas ingin melihat. Biasa namanya anak yang baru berusia 4 tahun, kadang hanya sekedar meminta saja. 

Dan ternyata, Zahra berminat ikut kelas tari disitu. Nama sanggarnya "Sanggar Tari Anak Tembi (STAT)" di bawah asuhan mbak Made Dyah Agustina dkk. Mbak Made ini Inemnya Yogya yang lagi viral, loh. Di STAT ini banyak tarian yang di pelajari anak-anak. Ketika pertama masuk, anak-anak wajib memilih tari dasar terlebih dahulu. Mereka akan mempelajari 4 tari dasar secara bertahap. Setiap 1 semester (5-6 bulan) diadakan ujian tari untuk melanjutkan ke tarian selanjutnya. Nah, setelah lengkap dengan 4 tari dasar, anak-anak bisa melanjutkan tari pilihan. Oh ya, sanggar tari ini tak hanya berlatih tapi juga sering pentas dan ikut pawai.
Mbak Inem

Saya sebagai orang tua hanya bisa mendukung keinginan anak agar dia semangat dan menikmati proses ketika menari. Dan saya akui menari itu sangat baik dan banyak manfaatnya. Setelah saya baca dari berbagai sumber, ada 7 manfaat  anak belajar menari. Berikut ini ulasannya.

1. Perkembangan Kognitif Anak
Kelas Tari Kipas 2017

Ketika belajar menari secara spontan anak akan merespon cepat lewat tarian. Anak dilatih untuk berpikir, meniru, berkreasi dan menghafalkan gerakan. Secara langsung dapat melatih perkembangan kognitif anak.

2. Mengontrol Emosi Anak
Kelas Tari Prawiro 2016
Dengan menari anak dapat mengontrol dan melatih emosi. Dalam setiap gerakan tarian, pasti ada emosi dan pesan yang disampaikan. Setelah mampu mengontrol emosi, anak akan mampu menikmati kesempatan mengekspresikan emosi diri sendiri dan orang lain.

3. Meningkatkan Kemampuan Bersosialisasi
Pentas Tari Dolanan 2017
                                     
Anak akan mengalami peningkatan sosial, yang awalnya merasa malu kemudian akan timbul rasa percaya diri. Dengan ikut kelas tari, maka anak yang pemalu akan bisa mengatasi sifatnya itu sehingga kemampuan bersosialisasi akan lebih baik. Bahkan dengan menari anak mampu bekerjasama dengan kelompok.

4. Meningkatkan Kesehatan Fisik
Kelas Tari Kuda 2016
Menari itu seperti senam aerobik karena melibatkan tubuh bergerak untuk membakar kalori. Pola gerakannya dapat mengajarkan anak cepat berkoordinasi sehingga mampu melatih kekuatan tubuh. Anak akan lebih sehat, aktif dan terampil.

5. Memicu Kreativitas Anak
Kelas Tari Bali 2018
Menurut Family Talk Magazine, bahwa anak yang ikut kelas tari dapat memicu kreativitas dan mengembangkan apresiasi seninya. Dengan berlatih menari secara rutin akan membantu mengasah keterampilan anak dalam menguasai gerakan, panggung, serta menghadapi penonton saat tampil. Selain itu,  anak yang aktif menari cenderung memiliki nilai yang tinggi dalam pelajaran Sains dan Matematika.

6. Mengembangkan Minat dan Bakat
Ujian Tari Bebek 2017

Dengan tarian, anak akan dapat memunculkan minatnya. Potensi yang ada di dalam dirinya akan keliatan. Nah, potensi tersebut harus diasah dan digali sehingga anak akan menjadi ahli dalam bidangnya. Dengan begitu bakat yang ada pada anak dapat dikembangkan.

7.  Melestarikan Budaya Indonesia
Ujian Tari Kembang Girang 2018

Jika anak sudah belajar menari sejak kecil, khususnya tarian tradisional. Maka anak sudah belajar melestarikan budaya bangsa sendiri. Biasanya melalui pendidikan seni di sekolah, anak juga akan diperkenalkan tari. Dengan harapan, anak mempunyai rasa memiliki dan menjaga kebudayaan bangsa. 

Itulah manfaat  jika anak belajar menari. Mulai sekarang tidak ada salahnya untuk mengenalkan tari pada anak. Ajak anak belajar tari, yuk, Dears! Tapi ingat, ya, hindarilah memaksa anak, loh. Untuk Zahra sendiri sudah dapat materi 7 tarian. Dan saat ini, dia memutuskan berhenti untuk tidak menari. Dia bilang lelah, ingin mengganti kegiatan yang lain. Saya pun tidak memaksakannya. Memang sedih juga, sudah 3 tahun ikut sanggar tari berakhir begitu saja. Tak apalah, ini akan menjadi pengalaman berharga buatnya. Mungkin kelak kalau memang ini bakatnya, maka akan tumbuh minat dan semangatnya lagi.

Salaam,




#SETIP
#SemingguTigaPostingan
#estrilookchallenge
#estrilookcommunity
#daytwo

Sabtu, 02 Februari 2019

Ingin Berwisata Ziarah ke Jawa Tengah? 3 Makam Para Wali Ini Bisa Jadi Pilihan


Ini hanyalah sepenggal cerita tentang perjalanan kami (komunitas pengajian emak-emak "Tombo Ati"). Di zaman sekarang terkenal dengan wisata ziarah. Dari Yogyakarta- Kudus-Demak dengan rute dan hari yang sama. Wisata ziarah yang kami lakukan adalah ziarah para Wali Songo. Wali Songo dibagi beberapa periode  di pulau Jawa. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas dan memberikan informasi tentang tempat wisata ziarah yang kami kunjungi.

Saya dan rombongan berangkat hari Senin, 28 Januari 2019 jam 8 pagi. Akhirnya tiba di tujuan jam 4 sore, wow lama juga, ya. Sebenarnya estimasi perjalanan sampai ke Kudus 4-5 jam tanpa berhenti dan macet. Namanya emak-emak ya pasti ada sesuatu hal di perjalanan, berhenti untuk sarapan dan makan siang, sholat dan butuh juga ke toilet hehhehe.

Simak cerita perjalanannya satu persatu, yuk.
1. Makam Sunan Kudus


Setibanya di Kudus, kami langsung ke Makam Sunan Kudus yang berlokasi di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kudus, Jawa Tengah.  Eitsss, ambil foto dulu sebelum masuk biasa dengan gayanya emak-emak yang narsis lah. Kami masuk dan mengisi buku tamu serta memberikan sumbangan seikhlasnya. Sesampainya di cungkup, saya takjub dengan makam-makam yang ada disini. Makamnya gede-gede, dengan batu nisan yang cukup kokoh dan indah. Sayang, kami tidak mengambil foto di dalam cungkup. 

Oh ya, makam ini adalah makam salah satu Wali Songo yang berdakwah di kalangan kaum penguasa dan priyayi Jawa, yaitu Sunan Kudus. Beliau adalah Aali Songo periode II, nama aslinya adalah Sayyid Ja'far Shodiq. Sebagai seorang wali, Sunan Kudus memiliki peran yang sangat besar dalam pemerintahan Kasultanan Demak. Beliau, dimitoskan sebagai seorang tokoh yang terkenal dengan seribu satu kisah tentang kesaktiannya. Hingga akhirnya beliau mendirikan kota Kudus, itu sebabnya diberi gelar Sunan Kudus. Kudus, yaitu al-Quds (Baitul Mukadis) adalah nama yang diberikan kepada tempat itu waktu dinyatakan sebagai "tempat suci" oleh Sunan Kudus. 

Sebelum masuk ke makam, kamu akan menjumpai masjid yang terkenal di Kudus yaitu Masjid Menara Kudus. Nama masjid ini sebenaranya Al-Aqsa, masyarakat mengenalnya dengan Masjid Menara Kudus. Dimana masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus untuk berdakwah dan menyiarkan agama Islam.  Pemerintah Indonesia telah menyematkan dokumentasi gambar masjid ini di belakang uang kertas pecahan Rp 5.000,- tahun 1986 sebagai peninggalan sejarah Indonesia yang perlu dilestarikan. Nah, sudah sepatutnya kamu juga ikut melestarikan budaya Indonesia dengan berkunjung kesini, ya. Setelah masuk ke makam, terlihat banyak orang  berziarah. Mereka membaca dzikir,  ayat-ayat Al-Qur'an dan berdoa kepada Allah Subhanahu Wa ta'ala. Rombongan saya pun juga melakukannya. Hanya sekitar 1,5 jam kami  berada di Kudus dan melanjutkan perjalanan ke Kadilangu, Demak.

2. Makam Sunan Kalijaga


Jarak perjalanan dari Kudus ke Kadilangu sekitar 1 jam. Jadi kami tiba sudah hampir malam. Sayang untuk pengambilan fotonya tidak begitu jelas karena malam, ya. Begitu sampai di halaman masjid Sunan Kalijaga Kadilangu, kami langsung masuk ke makam melalui lorong berlantai keramik di samping kanan masjid. Di sepanjang lorong yang beratap rapi ini banyak dijumpai kios pedagang yang menjual souvenir serta oleh-oleh makanan khas Demak. 

Setiba di pintu masuk cungkup, ada tempat penitipan sepatu/sandal dan para penziarah bisa memberikan uang dengan sukarela. Nah, ketika masuk kamu harus mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan serelanya juga. Seperti hal yang dilakukan sebagai peziarah, kami duduk bersila dan dengan khusyuk membaca zikir serta berdoa di dekat cungkup Sunan Kalijaga. Pilar cungkup makam dilapisi keramik dengan ornamen limasan atas bawah. Dinding diantara pilar dihiasi ukiran dan kaligrafi. Jendela ukirnya dilapis dengan teralis besi untuk pengaman. Sungguh makam yang istimewa. 

Sekilas asal-usul Sunan Kalijaga bahwa beliau adalah putra Bupati Tuban,  menggantikan Syekh Subakir yang pulang ke Persia (Wali Songo periode I). Sunan Kalijaga masuk kedalam Wali Songo periode III.  Nama aslinya Raden Mas Sahid atau Raden Setya. Lalu, diberi gelar Sunan Kalijaga  karena selama berdakwah di pulau Jawa beliau tinggal di Desa Kalijaga, sekitar 2,5 km di sebelah Cirebon. Dalam berdakwah Sunan Kalijaga selalu menyesuaikan dengan adat masyarakat Jawa, antara lain wayang, gending, gamelan, tembang, pakaian dan sebagainya. Beliau berpengetahuan sangat luas dalam kesenian dan kebudayaan Jawa.

3. Makam Raden Fatah



Setelah 1 jam di Kadilangu, kami meneruskan perjalanan yang terakhir yaitu makam Sultan Raden Fatah di Kampung Kauman, Bintoro, Demak. Wisata ziarah di Demak selalu ramai karena Demak terkenal dengan sebutan kota Wali. Makam Raden Fatah  berada di dalam komplek Masjid Agung Demak. Kami masuk ke makam dengan mengisi buku tamu dan memberikan sumbangan seikhlasnya. 

Selain Raden Patah, di area pemakaman ini  terdapat pula makam Raja Demak II Raden Pati Unus dan Raja Demak III Raden Trenggono.  Untuk makam Raja Demak I dan II berada di luar cungkup, sedangkan Raja Demak III berada di dalam cungkup. Raja Fatah  lahir pada tahun 1455M di Palembang dan meninggal pada tahun 1518M di Demak. Nama aslinya Raden Fatah adalah Raden Hasan. Beliau di makamkam  di satu lokasi dengan Masjid Agung Demak. Sehingga banyak orang yang berwisata ke Masjid Agung Demak sudah pasti mampir ke makam Raden Fatah untuk berziarah. 

Raden Fatah adalah Wali Songo periode IV, menggantikan Maulana Ahmad Jumadil Kubro yang wafat di Terboyo, Semarang (Wali Songo periode I), sekaligus sebagai pendiri Masjid Agung Demak. Masjid ini adalah salah satu masjid tertua diantara masjid-masjid yang ada di tanah Jawa, karena didirikan sekitar abad ke-15 Masehi. Kalau di hitung usia Masjid Agung Demak sekitar 618 tahun. Masjid ini dipercayai menjadi tempat berkumpul para wali yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Di depan masjid terdapat alun-alun yang sangat luas dan dua pohon beringin. Ini menjadi tradisi zaman dahulu para Wali Songo jika membangun masjid besar pasti di depannya terdapat alun-alun dan dua pohon beringin. Di tempat ini juga terdapat Museum Masjid Demak untuk menyimpan berbagai peninggalan bersejarah Kerajaan Demak. Dan akhirnya pun waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, kunjungan ziarah ke tempat ini selesai. Waktunya kembali pulang ke Yogya.

Senangnya, melakukan wisata ziarah yang penuh dengan hikmah dan  pembelajaran sejarah. Jadi tahu tentang perjuangan para Wali Songo dalam menyebarkan agama Islam di pulau Jawa. Sungguh, ini bagus untuk cermin kehidupan di masa sekarang hingga kelak. Tapi ingat, jangan berziarah dengan tujuan bid'ah atau syirik. Lakukan ziarah dengan tujuan karena untuk menggapai ridha Allah Subhanahu Wa ta'ala. Masih tersisa makam Wali Songo lainnya yang belum kami kunjungi. Insha Allah, jika diberi kesempatan dan kesehatan bisa dilakukan di kemudian hari.

Salaam



#SETIP
#SemingguTigaPostingan
#estrilookchallenge
#estrilokcommunity


#dayone

Kamis, 24 Januari 2019

5 Aktivitas Ini Tak Hanya Liburan Semata, Ternyata Bisa Jadi Ecotherapy Buat Anak-anak.


Berawal dari membuka file foto pribadi. Ada beberapa foto anak-anak saya saat menikmati liburan. Lalu, saya berkeinginan untuk menulis tema ini. Ternyata liburan yang kami lakukan berkaitan dengan alam. Yup, tak jauh dari istilah ecotherapy, mungkin ada yang menamakan terapi hijau atau terapi lingkungan.

Seiring perkembangan zaman dan teknologi, orang tua harus bisa merebut perhatian anak-anak  agar tidak tenggelam dalam dunia digital. Salah satu cara saya adalah  mengajak mereka berlibur sambil bermain di alam, sehingga mereka tidak menjauhkan diri dari alam bebas. Ini sangat berarti bagi mereka untuk mendapatkan udara segar, tidak hanya diam di dalam rumah.

Yuk, simak 5 aktivitas ala keluarga saya yang bisa jadi ecotherapy untuk anak-anak.

1. Memancing


Anak-anak saya perkenalkan dengan kegiatan ini sejak mereka kecil. Sebenarnya sih si bapak yang suka sekali dengan hal ini. Salah satu kegiatan di alam bebas ini mampu membuat pikiran anak-anak jadi rileks. Mereka butuh kesabaran dalam menanti ikan datang untuk memakan umpan. Setelah ikan datang dan memakan umpan, mereka berjingkrak-jingkrak senang walau sesekali ikannya pergi lagi. Memang menyenangkan dan mengasyikan. Hufftt ternyata bisa untuk melatih konsetrasi juga, lho. Ketika melempar umpan tidak hanya sekedar melempar saja, perlu untuk konsentrasi ke arah mana umpan yang akan dilempar. Tentunya ke tempat yang tepat, dimana ikan-ikan berkumpul.

2. Bermain di Pantai


Saya suka sekali mengajak anak-anak ke pantai. Lingkungan terbuka seperti ini bagus untuk mereka. Ah, bagus buat saya juga nih.  Di samping anak-anak senang bermain pasir dan ombak, saya pun senang melihat mereka tertawa lepas bebas di pantai. Tak hanya senang, bahkan mereka bisa merasakan kehangatan angin laut dan mengeksplorasi lingkungan pantai. Mereka tidak bosan bermain, sementara saya sudah lelah dan kehabisan akal untuk menemani. Saya rasa, hal ini akan  menjadi pengalaman yang berharga buat mereka. Seru dan asyik.

3. Bermain di Hutan


Ini bukan  bermain bebas di hutan yang seperti kalian kira, lho. Bermain di hutan yang saya maksud adalah hutan di kawasan wisata. Sekarang sudah banyak hutan dan cagar alam  yang difungsikan menjadi daerah wisata. Ternyata kalau mengajak anak-anak ke hutan, mereka akan mendapatkan  pembelajaran yang lengkap . Misalnya ketika mereka tiba disini, mereka akan melakukan hal yang tidak dapat dilakukan di rumah ataupun sekolah. Mereka akan bereksplorasi dan menambah pengalaman menemukan tumbuhan dan hewan yang asing bagi mereka. Oh ya, anak-anak bakal mengeluarkan keringat banyak disini, karena aktivitas yang mereka lakukan adalah berjalan. Gerak dan tingkah anak-anak saya, ampun superrr. Saya sampai ngos-ngosan berjalan bersama mereka.

4. Berlibur di Kebun Binatang


Buat saya, kegiatan ini merupakan hal yang bisa membantu anak untuk mengenal empati kepada sesama makhluk hidup khususnya hewan. Tak hanya itu, kegiatan ini bersifat mendidik. Di tempat  ini, anak-anak bisa menghirup udara terbuka dan menjelajahi lingkungan. Mereka akan menemukan hal baru, mengenal hewan-hewan yang dilindungi. Intinya, mereka bisa bebas bermain sesuka hati sambil belajar.

5. Bermain di Sawah


Nah, satu hal ini termasuk ecotherapy yang sederhana. Saat saya dan keluarga ke Wonosari terdapat banyak hamparan hijau membentang. Lalu, kami berhenti sejenak. Saya ajak anak-anak untuk turun ke sawah. Mereka berjalan di tengah sawah sesuka hati, bahkan sambil bermain di aliran air yang berfungsi untuk mengairi sawah. Mereka tidak takut basah dan kotor. Melepas penat dengan cara yang sederhana, siapa seh yang ga suka?  Oh ya dengan melihat pemandangan hijau mampu menyehatkan alat penglihatan, lho. Kondisi mata akan segar kembali.

Itulah beberapa aktivitas ala keluarga saya. Sebenarnya masih ada aktivias  yang belum terlaksana bersama mereka, yaitu camping di pegunungan 😎. Mari, yuk, kita sisihkan waktu, ajak anak-anak untuk lebih dekat dengan alam. Biarkan mereka dapat bereksplorasi dan berinteraksi dengan nyaman.

Salaam,